Teori Belajar Sibernetik

Sumber: pexels.com/photo/cardboard-box-with-brain-and-idea-inscriptions-7203722/

A. Belajar dalam Pandangan Sibernetik

Istilah sibernetika/sibernetik atau dalam Bahasa Inggris disebut cybernetics berasal dari Bahasa Yunani Kuno, kybernetes yang berarti ‘pilot, jurumudi, kemudi atau gubernur, akar kata yang sama dengan pemerintah’. Istilah sibernetik digunakan untuk menggambarkan cara bagaimana umpan balik (feedback) memungkinkan berlangsungnya proses komunikasi. Sistem cybernetic terwujud dalam berbagai bidang, yaitu 1) bidang ekonomi yang dikenal dengan konsep invisible hands, 2) dalam bidang ekonomi yang dikenal dengan konsep check and balances di konstitusi, 3) di bidang berpikir, yang terwujud dalam cara berpikir Hegel, yaitu tesis-antitesis dan sintesis. Sibernetika adalah teori sistem pengontrol yang didasarkan pada komunikasi (penyampaian informasi) antara sistem dan lingkungan serta antarsistem, pengontrol (feedback) dari sistem yang berfungsi dengan memperhatikan lingkungan. Prinsip dasar teori sibernetik adalah menghargai adanya “perbedaan” bahwa suatu hal akan memiliki perbedaan dengan yang lainnya atau bahwa sesuatu akan berubah seiring perkembangan waktu. Pembelajaran digambarkan sebagai INPUT-PROSES-OUTPUT.

Menurut teori belajar sibernetik, belajar adalah mengolah informasi (pesan pembelajaran). Proses belajar sangat ditentukan oleh sistem informasi. Teori ini hampir sama dengan teori kognitif, yaitu mementingkan proses belajar dibandingkan dengan hasil belajar, tetapi perbedaannya adalah teori sibernetik lebih mementingkan sistem informasi yang diproses akan dipelajari oleh siswa. Informasi inilah yang akan menentukan proses. Dengan kata lain, sistem informasi dipandang sangat memegang peranan penting dalam memudahkan penyampaian materi pembelajaran yang akan disajikan kepada siswa.

B. Kelebihan dan Kekurangan Teori Sibernetik

Kelebihan teori sibernetik adalah 1) cara berpikir yang berorientasi pada proses lebih menonjol, 2) penyajian pengetahuan memenuhi aspek ekonomis, 3) kapabilitas belajar dapat disajikan lebih lengkap, 4) adanya keterarahan seluruh kegiatan belajar kepada tujuan yang ingin dicapai, 5) adanya transfer belajar pada lingkungan kehidupan yang sesungguhnya, kontrol belajar memungkinkan belajar sesuai dengan irama masing-masing individu, dan 6) balikan informatif memberikan rambu-rambu yang jelas tentang tingkat untuk kerja yang telah dicapai dibandingkan dengan unjuk kerja yang diharapkan.

Di sisi lain, kekurangan teori sibernetik adalah terlalu menekankan pada sistem informasi yang dipelajari dan kurang memperhatikan bagaimana proses belajar. Teori sibernetik dikritik karena tidak membahas proses belajar secara langsung, sehingga hal ini menyulitkan penerapannya. Jika teori humanistik lebih dekat ke dunia filsafat, teori sibernetik lebih dekat ke psikologi dan informasi. Selain itu, pemahaman kita terhadap mekanisme kerja otak masih terbatas yang mengakibatkan pengetahuan tentang bagaimana informasi diolah menjadi sangat terbatas.

C. Teori Pemrosesan Informasi

Aliran sibernetik menekankan pada “sistem informasi” yang dipelajari. Memproses informasi meliputi 1) mengumpulkan dan menghadirkan informasi (encoding), 2) menyimpan informasi (storage), 3) mendapatkan informasi dan menggali informasi kembali dari ingatan pada saat dibutuhkan (retrieval). Teori pemrosesan informasi umumnya berpijak pada tiga asumsi, yaitu 1) bahwa antarstimulus dan respon terdapat suatu seri tahapan pemrosesan informasi di mana pada masing-masing tahapan dibutuhkan sejumlah waktu tertentu, 2) stimulus yang diproses melalui tahapan-tahapan tadi akan mengalami perubahan bentuk ataupun isinya, dan 3) salah satu dari tahapan mempunyai kapasitas yang terbatas. Ketiga asumsi tersebut menjadi dasar pengembangan teori tentang komponen struktur dan pengatur alur pemrosesan informasi. Komponen pemrosesan informasi dipilah menjadi tiga berdasarkan perbedaan fungsi, kapasitas, bentuk informasi, serta proses terjadinya “lupa”. Berikut adalah skema pemrosesan informasi.

1. Sensory Memory/Sensory Register/Sensory Receptor

Sensor memory merupakan komponen pertama dalam sistem memori. Sensory memory menerima informasi atau stimuli dari lingkungan (seperti suara, sinar, bau, warna, panas, dan lain sebagainya) terus-menerus melalui alat-alat penerima (receptor). Informasi yang diterima disimpan dalam sensory memory untuk beberapa saat saja - sangat singkat, kurang lebih dua detik. Informasi yang ada mudah terganggu dan berganti.

2. Working Memory dan Short Term Memory

Working memory adalah bagian dari memori manusia, yaitu komponen kedua yang menangkap informasi yang diberi perhatian (attention) oleh individu dan menyimpan informasi menjadi pikiran-pikiran. Salah satu cara untuk menjaga ingatan terhadap informasi dalam short term memory (STM) adalah mengulang dengan latihan (rehearsal).

3. Long Term Memory

Long term memory (LTM) merupakan bagian dari sistem memori manusia yang menyimpan informasi untuk sebuah periode yang cukup lama. Informasi yang diperoleh dalam jaringan kerja ini melalui spred of activation, yaitu pencarian kembali informasi berdasarkan keterangannya dengan informasi-informasi yang lain. Informasi yang tersimpan dalam LTM tidak akan pernah terhapus atau hilang.

D. Kondisi Internal dan Eksternal Siswa

1. Kondisi Internal

Kondisi internal memengaruhi proses belajar melalui pengelolahan informasi dan sangat penting untuk diperhatikan oleh guru dalam mengelola pembelajaran, antara lain:

  • Kemampuan awal siswa adalah pengetahuan atau keterampilan yang telah dimiliki siswa merupakan prasyarat sebelum mengikuti pembelajaran yang dapat diukur melalui tes awal, interview, atau dengan cara lain yang cukup sederhana
  • Motivasi sebagai tenaga pendorong yang menyebabkan adanya tingkah laku ke arah tujuan tertentu
  • Perhatian adalah strategi kognitif untuk menerima dan memilih stimulus yang relevan untuk diproses lebih lanjut di antara sekian banyak stimulus yang datang dari luar
  • Persepsi tindakan menyusun, mengenali, dan menafsirkan informasi sensori untuk memberikan gambaran dan pemahaman tentang lingkungan
  • Ingatan adalah suatu sistem aktif yang menerima, menyimpan, dan mengeluarkan kembali informasi
  • Lupa adalah hilangnya informasi yang telah disimpan dalam ingatan jangka panjang
  • Retensi adalah apa yang tertinggal dan dapat diingat kembali setelah seseorang mempelajari sesuatu (kebalikan dari “lupa”)
  • Transfer adalah proses yang telah pernah dipelajari dan memengaruhi proses dalam mempelajari materi yang baru

2. Kondisi Eksternal

  • Kondisi belajar adalah masukan yang dapat menyebabkan adanya modifikasi tingkah laku yang dapat dilihat sebagai akibat dari adanya proses belajar
  • Tujuan belajar adalah sistem pembelajaran yang sangat penting karena komponen lain dalam pembelajaran harus bertolak dari tujuan yang hendak dicapai dalam proses belajarnya
  • Pemberian umpan balik adalah suatu hal yang sangat penting bagi siswa karena memberikan informasi tentang keberhasilan, kegagalan, dan tingkat kompetensinya.

E. Teori Belajar Menurut Landa

Landa merupakan salah seorang ahli psikologi yang beraliran sibernetik. Menurut Landa, ada dua macam proses berpikir. Jenis pertama adalah proses berpikir algoritmik, yaitu proses berpikir linier, konvergen, dan lurus menuju ke satu target tertentu. Contohnya kegiatan menelepon dan menjalankan mesin mobil. Jenis kedua adalah berpikir heuristik, yaitu cara berpikir divergen dan menuju ke beberapa target sekaligus. Memahami suatu konsep yang mengandung arti ganda dan penafsiran biasanya menuntut seseorang untuk menggunakan cara berpikir heuristik. Contohnya operasi pemilihan atribut geometri, penemuan cara-cara pemecahan masalah, dan lain-lain. 

Proses belajar akan berjalan dan baik jika materi pelajaran yang hendak dipelajari akan lebih tepat disajikan dalam urutan yang teratur, linier, sekuensial, sedangkan materi pelajaran lainnya akan lebih tepat bila disajikan dalam bentuk terbuka dan memberi kebebasan kepada siswa untuk berimajinasi dan berpikir. Misalnya agar siswa mampu memahami suatu rumus matematika, mungkin akan lebih efektif jika presentasi informasi tentang rumus tersebut disajikan secara algoritmik. Alasannya adalah suatu rumus matematika biasanya mengikuti urutan tahap demi tahap yang sudah teratur dan mengarah ke satu target tertentu. Namun, untuk memahami makna suatu konsep yang lebih luas dan banyak mengandung interpretasi, misalnya konsep keadilan atau demokrasi, akan lebih baik jika proses berpikir siswa dibimbing ke arah yang menyebar atau berpikir heuristik dengan harapan pemahaman mereka terhadap konsep itu tidak tunggal, menonton, dogmatis, atau linier.

F. Teori Belajar Menurut Pask dan Scott

Tujuan belajar dari teori belajar ini adalah agar siswa mampu mengkaji pengetahuan yang telah dipelajari dan didapatkan dari pendidik serta dapat menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Ada dua macam cara berpikir dalam teori ini, yaitu 1) serialis, pendekatan algoritmik di mana siswa yang menggunakan strategi penggunaan langkah-langkah berurutan yang logis dan setia pada langkah-langkah yang telah ditetapkan secara hierarkis merupakan pembelajaran yang memiliki gaya pengajaran serialis dan 2) wholist, cara berpikir menyeluruh di mana siswa cenderung mempelajari sesuatu dari tahap yang paling umun ke paling khusus atau detail.

Referensi

  • Husamah, Pantiwati, Y, Restian, A & Sumarsono, P. 2016. Belajar dan Pembelajaran. Malang: Universitas Muhammadiyah Malang
  • AsikBelajar.com. 2014. Teori Belajar Menurut Landa. www.asikbelajar.com/teori-belajar-menurut-lamda/ Diakses pada 20 Oktober 2021


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Teori Belajar Sibernetik"

Posting Komentar